Jumat, Januari 30, 2009

OBAMA DAN SEBUAH HARAPAN TENTANG PERUBAHAN
Yes, We Can-Change We Believe In. Adalah sebuah kumpulan kata-kata manis (baca: mantra) yang dapat menyihir seluruh warga dunia, khususnya di AS. Kumpulan kata yang dikeluarkan oleh seorang Barrack Hussein Obama keturunan Afro-Amerika, mantan Senator Illinois yang kini menjadi Presiden AS ke-44 menggantikan George W Bush. Yang dikenal selama ini dengan bang-bang diplomacy –nya (diplomasi ala koboy) terhadap beberapa Negara terutama Negara-negara Islam seperti Irak dan Afghanistan, dengan alasan perang global terhadap “Terorisme” War on Terorism pasca serangan 9/11.
Begitu derasnya pemberitaan yang dilakukan secara massif di media-media Indonesia khususnya. Seolah-olah menjadikan Obama sebagai Juru Selamat kaum Nasrani dan Sang Mesiah bagi kaum Yahudi. Maka timbul pertanyaan, apakah benar Mr Obama dapat merubah wajah Uncle Sam menjadi lebih ramah pasca rezim Bush, dan bagaimana kebijakan luar negerinya terhadap Negara Muslim, khususnya konflik paling krusial Israel-Palestina yang sudah ada puluhan tahun yang lalu?.
Dikarenakan masa kecilnya di Indonesia yang mayoritas Muslim, dan ayah kandung serta tirinya adalah seorang muslim. Dan juga menggunakan nama Hussein pada namanya, masyarakat dunia khususnya umat Muslim banyak berharap pada manusia yang satu ini akan misi perubahannya. Dan dalam berbagai pemberitaan Obama diberitakan akan lebih menggunakan jalur diplomasi dan perundingan Smart Power dengan “musus-musuhnya” terkait permasalahan nuklir Iran, penarikan tentara AS di Irak, penutupan penjara Guantanamo dan sebagainya. Benarkah demikian?. Terkait penarikan tentara AS di Irak, pernah Obama menegaskan hal itu (dalam debat presiden AS kedua), dilakukan untuk kemudian mengirim mereka ke Afghanistan memperkuat pasukan yang ada untuk membunuh Osama bin Laden, dan memberangus Al Qaeda, yang diklaim perang melawan “terror” yang sesungguhnya dan mempertahankan keamanan nasional negaranya.
Demikian pula kaitannya dengan konflik krusial Israel-Palestina. Sudah menjadi rahasia umum bahwa lobbi-lobbi Yahudi sangat kuat mencengkeram siapapun yang duduk di Gedung Putih. Hal itu dapat kita lihat dalam pidatonya di hadapan salah satu lobbi Yahudi AIPAC (America-Israel Public Affairs Comitte). Ia mengatakan “Ancaman Israel adalah ancaman kita (AS)”, dan juga Ia berkata tentang masalah Palestina “Kita harus mengisolasi HAMAS agar mengakhiri “Teror” terhadap Israel, dan mengakui hak-hak Israel”. Dan juga “Tidak ada negoisasi di meja perundingan dengan organisasi “Teroris” itulah mengapa saya menolak pemilu 2006 (yang dimenangkan HAMAS)”. Serta beberapa waktu lalu ketika di kota Sderot Israel, Ia mengatakan “Ketika anak-anak saya sedang tidur dirumah dan ada serangan roket kerumah saya, maka saya akan keluar dan melakukan apapun untuk menghentikan serangan tersebut, saya kira juga Israel akan melakukan hal yang sama”.
Kita juga dapat menebak arah kebijakan luar negerinya terkait tentang posisi pejabat-pejabat di lingkungan sekitarnya. Penunjukkan Rahm Emmanuel bekas tentara Israel (yang dijuluki “Rambho” oleh lawan politiknya karena sikapnya yang keras) sebagai Kepala Staff Gedung Putih yang ayahnya adalah bekas seorang anggota kelompok teroris Irgun. Pengangkatan Hillary Rodham Clinton senator New York sebagai Secretary of State (Menteri Luar Negeri) yang merupakan pesaingnya ketika bertarung pada kampanye pemilihan Presiden. Mantan Ibu Negara era Bill Clinton. Seorang AS yang sangat membela kepentingan Israel bahkan melebihi orang Israel sendiri. Seorang perempuan yang sangat berambisi menghancurkan Iran, dikarenakan khawatir akan mengganggu kemanan nasional sekutunya (Israel). Dan yang terakhir pengisian jabatan Secretary of Defense (Menteri Pertahanan) oleh Rober Gates yang pada era Bush juga dipercaya mengisi posisi yang sama. Seorang Menteri yang bersikeras untuk tetap mempertahankan tentara AS di Irak. Nama-nama tadi adalah para Hawkish (baca: haus perang) dan masih banyak lagi nama-nama yang lainnya untuk membela kepentingan nasional negaranya dan tentu saja para sekutunya, terutama Israel. Ya, karena Israel dan AS ibarat sebuah dua mata koin yang selalu berkaitan erat, dan tidak bisa lepas satu sama lainnya. Karena obama juga mengatakan “we as a friends of Israel”. Dan tentu sebagai sahabat, pemerintahan Obama akan berusaha mati-matian melindungi sahabatnya (Israel).
Khusus Indonesia banyak kalangan di Indonesia berharap Indonesia akan diuntungkan dengan terpilihnya Obama sebagai Presiden AS. Hal itu dikarenakan Ia pernah tinggal di Menteng Jakarta, dan mempunyai ayah tiri seorang Muslim Indonesia lalu berharap akan munculnya romantisme masa lalu. Penting untuk diketahui bahwa Ia hanya menghabiskan 4 tahun di Indonesia, itupun hanya pada masa kanak-kanak ketika waktu SD. Apakah hanya karena Ia mengatakan kangen dengan bakso, mie pangsit, nasi goreng lantas Ia akan membuat kebijakan yang bagus untuk Indonesia?. Pemerintahan Obama kini diwarisi oleh rezim Bush berupa krisis Ekonomi, yang parah sedemikian hebatnya semenjak Great Depression tahun 1930an. Dan ingat seorang Presiden tentu hanya akan mengedepankan kepentingan nasionalnya jauh diatas kepentingan nasional Negara lain. Dan juga Indonesia bukanlah “sahabat” AS.
Mungkin ada benarnya tausiyah dari KH Rahmat Abdullah (alm) Allahu Yarham. Beliau mengatakan “Sistem yang dibentuk zionis di AS telah berjalan dengan sangat baik. Sehingga, siapa pun yang menjadi Presiden, bahkan jika dia seekor monyet pun. Negara AS akan tetap seperti itu, tidak akan pernah berubah”. Melihat hal seperti itu tentunya kita akan bertanya-tanya benarkah mantra “Change” seperti yang digonjang-ganjingkan oleh Mr Obama akan diwujudkan. Hendaknya kita sebagai Umat Muslim janganlah terlalu banyak berharap akan terjadinya perubahan pada wajah AS dan selalu bersikap waspada. Kalau sewaktu rezim Bush, ia dengan tegas mengatakan perang terhadap terror yang membahayakan negaranya. Sedangkan Obama bersikap lebih “halus” dan mungkin saja dapat lebih berbahaya dari zaman rezim Bush. Hanyalah waktu yang dapat menjawabnya.
Wa Allahu ‘Alam Bi Showab Al Aqsho Haqquna

Tidak ada komentar:

Posting Komentar